JUST TRYING TO COLLECT INFORMATION of ZION-CYBERCRIME-FREE EBOOKS

POLITIK ISLAM DI TURKI

In JEJAK ZION on April 27, 2009 at 8:31 am

 

Keberanian Perdana Menteri Turki, Recep Tayyib Erdogan (Rajab Thoyib Erdogan), mendamprat Presiden Zionis-Israel, Shimon Perez, dalam pertemuan Davos, Januari lalu mengagetkan seluruh dunia.

Bukan saja membuat kagum para akivis kemanusiaan dunia, namun juga membuat merah telinga Shimon Perez sendiri yang sangat terlihat dari gestur wajahnya yang tertekan saat Erdogan meninggalkan begitu saja podium tanpa menyalami Perez.

Banyak orang Islam di berbagai negeri mengeluh, mengapa bukan para pemimpin Arab yang bersikap demikian, mengapa bukan para raja-raja dan pangeran Saudi dan juga Presiden Mesir yang mampu bersikap jantan seperti itu, mengapa mereka malah memperlihatkan sikap pengecut terhadap Zionis-Israel? Liga Sekjen Arab, Amr Mousa sendiri, menyatakan salut dengan Erdogan, “Saya rasa tidak ada satu pun orang Arab yang berani bertindak seperti Erdogan!”

Di Indonesia, banyak kalangan menyatakan mengapa bukan SBY yang berani bersikap demikian? Pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “Jangankan berani mendamprat Zionis secara langsung, menghadapi pernyataan kontroversial salah seorang petinggi Demokrat yang membuat kuping Golkar merah saja sudah kalang-kabut.

Nyali pemimpin seperti itu sudah bisa terbaca ketika Bush mau berkunjung ke Bogor beberapa tahun lalu. Ketika itu SBY amat sangat berlebihan dalam menyambut Bush, merusak sebagian lahan Kebun Raya Bogor untuk dibangun Helipad yang akhirnya tidak dipakai Bush, menempatkan tentara berseragam dengan perlengkapan tempur garis pertama dalam jarak setiap dua meter mengepung rapat istana Bogor, bagaikan seorang lurah di pedesaan yang menyambut kehadiran seorang Kaisar Dunia. Sebab itu dia dilecehkan Bush, yang dengan nakalnya meloncat keluar dari mobilnya saat berhenti tepat di depan SBY.”

Dari podium pertemuan Davos tersebut, Erdogan langsung pulang ke Turki. Di negerinya, Erdogan disambut bagaikan pahlawan besar. Turki modern telah menorehkan sejarahnya sendiri dengan tinta emas, dan mengatakan kepada dunia, jika Turki adalah sebuah bangsa yang besar dan berani membela keadilan dan kebenaran.

Padahal dunia juga tahu jika Turki Modern adalah Turki yang masih menjunjung tinggi asas sekularisme, bersahabat dekat dengan Uni Eropa dan Amerika, membuka hubungan diplomatik dengan Zionis-Israel, dan sebagainya. Namun siapa tahu, jauh di lubuk hati orang-orang Turki, mereka sungguh-sungguh mendambakan sebuah Turki yang sangat gemilang saat Turki masih menjadi sentral bagi kekhalifahan Islam.

Apa yang dilakukan Erdogan terhadap tokoh Zionis tersebut seolah mengulangi sebuah episode sejarah keemasan Turki saat dipimpin oleh Khalifah Sultan Abdul Hamid II di awal abad ke-20. Saat itu Theodore Hertzl, pemimpin Gerakan Zionis Internasional, mendatangi Abdul Hamid untuk meminta agar Turki Utsmani mau membagi sebagian tanah Palestina untuk dijadikan negara Israel.

Permintaan Hertzl ini disertai dengan bujuk rayu dan janji, jika keinginannya dituruti maka Turki dan juga Sultan Abdul Hamid II akan diberi hadiah sangat besar oleh gerakan Zionis Internasional.

Namun dengan sikap tegas Abdul Hamid mengusir Hertzl seraya berkata, “Turki tidak akan pernah sekali pun menyerahkan Tanah Palestina kepada kamu hai orang-orang Yahudi. Tanah Palestina bukanlah milik Turki, melainkan milik seluruh umat Islam dunia. Jangan bermimpi bisa menginjak Tanah Palestina selama saya masih hidup!”

Sebab itu, Hertzl dan para tokoh Zionis lainnya merancang suatu konspirasi untuk menghancurkan kekhalifahan Islam Turki Utsmani sehingga kekhalifahan ini benar-benar ambruk pada tahun 1924 dan Turki pun diubah menjadi negeri Sekuler.

Salah satu konspirasi Zionis adalah dengan menggandeng Abdul Wahab untuk memberontak terhadap Turki Utsmaniyah dan mendirikan Kerajaan Arab Saudi, suatu monarki absolut yang sesungguhnya merupakan suatu bentuk pemerintahan yang bertentangan dengan Sunnah Rasul SAW alias Bid’ah kubro.

Sebab itu, sampai hari ini para pemimpin Saudi Arabia bisa bermesra-mesraan dengan kaum Zionis, baik yang Israel maupun yang Amerika, namun menyimpan kecurigaan yang berlebihan terhadap kelompok-kelompok perjuangan yang ingin membela izzah Islam seperti HAMAS dan sebagainya.

Sebab itu pula, ketika sekolah-sekolah di Turki yang notabenemengaku Sekular setiap hari mengumpulkan amplop berisi sumbangan uang para murid untuk diberikan kepada rakyat Palestina di jalur Gaza yang tengah dibantai Zionis-Israel, lembaga-lembaga pendidikan yang berkhidmat pada penguasa Saudi model seperti ini—termasuk yang berdiri di Indonesia—tidak tergerak hatinya untuk turut menyumbangkan amplop berisi uang kepada rakyat Palestina.

Bahkan di masjid-masjid, ketika umat Islam mendirikan sholat ghaib bagi Muslim Palestina, para taklid-buta Saudi ini tidak bersedia melakukannya dengan alasan bid’ahNaudzubillah min dzalik!

Ada sebuah hadits Rasulullah SAW tentang hari akhir yang berbunyi,“Kamu akan akan memerangi Semenanjung Arabia, lalu Allah akan menaklukkannya untukmu. Setelah itu Persia, di mana Allah akan menaklukkannya untukmu. Kemudian Rum, di mana Allah akan menaklukkannya untukmu. Kemudian kamu akan memerangi Dajjal, dan Allah akan menaklukkannya untukmu.” (HR. Muslim).

Adakah hadits tersebut memerintahkan pasukan Muslim di bawah komando Imam Mahdi untuk menghancurkan para pemimpin Saudi yang kelakuannya seperti sekarang ini? Wallahu’alam bishawab. Semoga saja tidak dan semoga saja tidak semua pemimpin Saudi dan para pengikutnya seperti itu. Amin.

Politik Islam Turki

Saat ini Erdogan mendapat nama yang harum, bukan saja di mata rakyat sipil Turki, namun juga di mata para pemimpin militer Turki yang selama ini dikenal sebagai penjaga garis Sekulerisme paling gigih dan konservatif. Padahal, mereka tahu semua jika Erdogan berasal dari partai yang kental dengan Islam dan memiliki seorang isteri yang juga menutup aurat.

Apa yang dicapai Erdogan sekarang ini sesungguhnya bukanlah hasil sulapan semalam, namun hasil dari proses keteladanan, kesungguhan, dan keteguhan politik Islam di Turki sekuler. Model perjuangan para politisi Islam dan juga partai politik Islam di Turki modern banyak menginspirasi partai-partai Islam di berbagai negara di dunia. Dalam tulisan kedua akan dipaparkan sejarah awal Turki sekuler dan awal kembang-tumbuhnya partai Islam di sana.

 

Turki merupakan sebuah negeri yang unik karena letak wilayahnya berada di dua benua yakni Asia dan Eropa, atau istilahnya negara Eurasia. Laut Marmara yang merupakan bagian dari Turki digunakan secara internasional sebagai patokan batas wilayah Benua Eropa dengan Asia, sebab itu Turki juga disebut sebagai Negara Transkontinental. Secara ideologis, negara ini juga menjadi pembatas antara negara-negara Kristen Eropa (The Christendom) di sebelah utaranya dengan negara-negara Arab di sebelah selatan. Sebab itu, ketika Perang Salib pecah di akhir abad ke-11 Masehi, wilayah Turki menjadi jalur utama perlintasan tentara Salib dari Eropa menuju ke Yerusalem. Pun ketika Tentara Salib kalah dan pulang dari Yerusalem ke Eropa pada tahun 1187, lagi-lagi wilayah Turki dipakai sebagai tempat perlintasan.

Ankara merupakan ibukota Turki Modern (Turki Sekuler), namun kota terbesar dan paling bersejarah adalah Istanbul. Negeri ini juga merupakan saksi hidup dari catatan sejarah dan peradaban dunia yang besar, seperti halnya Kekaisaran Byzantium dan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah.

Saat ini Turki berbentuk Repulik yang menjaga prinsip-prinsip sekularisme dengan militer sebagai garda terdepannya. Hal tersebut merupakan ‘buah karya’ dari konspirasi Yahudi Internasional yang menyusupkan seorang agennya bernama Mustafa Kamal, seorang Yahudi Dumamah dari Tsalonika, yang menghancurkan kekhalifahan Turki Utmaniyah secara total pada tahun 1924. Sejak itu Islam dengan segala atributnya menjadi baang haram di Turki Modern. Adzan pun dilakukan dengan bahasa Turki. Kenyataan ini merupakan kontradiksi yang sangat ironis, bagaimana bisa sebuah kekhalifahan Islam yang besar, yang mewarsi sebagian besar daerah Imperium Byzantium dan wilayahnya menjulur dari Eropa hingga ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Kepulauan Maluku  (Jazirah Al-Muluk).

 

Turki Utsmaniyah

Kekaisaran Byzantium melemah di abad ke-13 Masehi. Sejumlah kabilah melepaskan diri dari kekuasaannya. Salah satu kabilah yang melepaskan diri berada di daerah Eskisehir, utara Turki sekarang. Kabilah ini dipimpin oleh Ertugul dan diteruskan oleh anaknya bernama Osman I yang pada tahun 1299 mendirikan Kesultanan Utsmaniyah.

Osman I seorang yang sangat pemberani dan menerapkan politik kombinasi antara jihad-dakwah sehingga mampu membebaskan wilayah-wilayah di sekitarnya dan meneranginya dengan cahaya Islam. Sebab itu Osman I memiliki nama panggilan “kara” yang dalam bahasa Turki sebutan untuk hitam disebabkan keperkasaannya. Sosok pendiri Kekhalifahan Turki Utsmaniyah ini sangat dihormati rakyat Turki hingga sekarang, sehingga di negeri ini ada sebuah “kalimat doa” yang berbunyi, “Semoga dia sebaik Osman.” Dan di beberapa kalangan tarekat yang banyak terdapat di Turki, terdapat mitos yang berasal dari sebuah cerita lama dari abad pertengahan yang mengisahkan jika Osman pernah bermimpi menjadi seorang pembebas bagi Turki yang membebaskan berbagai wilayah yang menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Turki Utsmaniyah saat itu. Cerita ini dikenal sebagai “Mimpi Osman”.

Sepeninggal Osman I, pembebasan demi pembebasan wilayah sekitarnya menjadikan Turki Utsmaniyah kian berjaya. Dalam usia 21, Mehmed II melakukan pembaharuan dengan merombakan struktur kesultanan dan juga angkatan perangnya. Di zaman Mehmed II inilah, Kota Konstantinopel dibebaskan dan diganti namanya menjadi Islambul, atau dalam lidah Eropa, Istanbul. Ini terjadi pada 29 Mei 1453.

Di masa The Great Suleyman atau Sulaiman yang Agung, 1520-1560, Beograd dibebaskan (1521) dan sejumlah wilayah di sekitarnya juga ikut. Di tahun 1529, pasukan Turki Utsmaniyah telah berada di gerbang kota Wina. Namun disebabkan musim dingin yang hebat jatuh lebih awal, maka pasukan ini mundur. Di sebelah Timur, Bagdad berhasil dibebaskan dari kekuasaan Persia sehingga mendapatkan hak kontrol atas Mesopotamia dan Teluk Persia. Di masa ini, armada laut Turki Utsmaniyah sangat kuat dan disegani.

Roda sejarah selalu berputar, ada saat pasang ada ula saat surut. Demikianlah sunnah kehidupan. Cahaya Islam yang sudah berada di gerbang depan Eropa membuat Vatikan dan sejumlah kerajaan Salib cemas. Dendam kesumat atas kekalahan mereka dalam Perang Salib di Yerusalem beberapa abad lalu belumlah sirna dari ingatan. Sebab itu, dengan sekuat tenaga, mereka menyatukan barisan untuk menghadang cahaya Islam yang dibawa oleh Turki Utsmani dan juga berusaha keras menghancurkannya.

Gerakan penghancuran terhadap kekhalifahan ini dimulai dari para ahlul-zimmah, orang-orang Kristen dan juga Yahudi, yang berada di wilayah Turki. Mereka mendapatkan keistimewaan di zaman kekuasaan Sulayman II. Namun menjelang tahun 1520, mereka ini menuntut untuk mendapatkan persamaan hak dengan kaum Muslimin. Hak ini mereka manfaatkan untuk melindungi tokoh-tokoh asing yang tengah menggalang kekuatan anti kekhalifahan.

Dalam bekerja mereka menggunakan dua strategi: mendatangkan sekutu mereka dari luar dan menggalang kerjasama dengan tokoh-tokoh Islam lokal yang bisa “menukar akidah Islamnya dengan kenikmatan duniawi”. Akhirnya, Sultan terdesak untuk meneken perjanjian dengan Bizantium (1521), Perancis (1535), dan Inggris (1580). Semua ini mengakibatkan kekuatan kaum kafir bertambah. Jumlah mereka bertambah dari hari ke hari.

Salah satu proyek mereka adalah mendirikan pusat-pusat kajian ketimuran yang pada akhirnya meracuni pemikiran-pemikiran Islam generasi muda Turki dengan model Islam yang berpihak ke Barat. Di Indonesia, gerakan ini sama persis dengan gerakan Islam liberal. 

————————————————————————————————————————————————–

 

Di bawah sistem sekularisme yang masih sangat kuat, dimana militer akan secara tegas akan  melibas siapa pun yang berani meruntuhkan asas ini.

Maka kondisi yang nyata ini jelas tidak memungkinkan seorang tokoh Islam atau ulama secara terang-terangan menyatakan diri sebagai pembela Islam atau akan menegakkan syariat Islam.

Sebab itu, tokoh-tokoh Islam di Turki selalu menghindari jargon-jargon keislaman dan lebih mengedepankan jargon-jargon kemanusiaan dan demokrasi. Mereka lebih mengutamakan kerja nyata ketimbang berbicara.

Dan hebat lagi, para tokoh Islam Turki, lebih memilih berjuang di sisi rakyat jelata, membantu mereka yang kekurangan dan ditimpa kemalangan, ketimbang berjuang di sisi penguasa yang hidup dalam berkelimpahan. Rasulullah SAW telah mencontohkan bagaimana Beliau berdakwah Islam dengan memulai dari pencerahan terhadap rakyat jelata, bukan memulai dari mendekati elit negara atau kaum penguasa.

Untuk mendakwahkan Islam sebagai agama yang bersih, peduli, dan menyeluruh, para tokoh Islam Turki menerapkan hal itu pada kehidupan keluarganya sehari-hari. Para tokoh-tokoh Islam itu menyatu dengan kadernya di dalam berdakwah. Jadi tidak ada istilah, hanya kader yang perduli dan bekerja keras memeras keringat, sementara para elit partainya bersenang-senang bersekutu (musyarokah) dengan kelompok elit penguasa atau orang-orang kaya pendukung utama status-quo. Tidak ada istilah hanya para kader yang berlepotan lumpur sawah dan dijemur terik matahari, sementara elit partai kekenyangan makan mewah di hotel-hotel.

Akhirnya, dalam satu pemilihan demokratis di tahun 1985, Partai Islam Refah keluar sebagai pemenang. Necmetin Erbakan dilantik menjadi Perdana Menteri. Kemenangan Refah dan Erbakan disambut dengan penuh kegembiraan dan harapan oleh rakyat Turki. Namun tentu saja, militer Turki melihatnya dengan penuh kewaspadaan.

Refah tidak mengklaim sebagai partai Islam militan dan fundamentalis. Walau demikian Refah juga sama sekali bukan “Partai Islam” yang hanya pandai menjual atau memanfaatkan jargon-jargon keislaman dan kemanusiaan. Secara remi, jargon politik yang dikampanyekan Refah adalah mengutamakan keadilan sosial, tradisi, dan etika, juga menolak westernisasi. Walau demikian, Refah juga menyatakan diri memperjuangkan Islam yang khusus yakni Islam yang sesuai dengan karakteristik rakyat Turki.

Refah merupakan partai moderat yang menjunjung nilai demokrasi dan pluralisme. Namun, tahun 1997 Turki melalui tangan militer melarang partai itu ketika dianggap Partai Refah terlalu memperjuangkan Islam. Sejak itulah, dimulai era jatuh bangunnya partai politik “Islam” di Turki.

AKP dan Erdogan

Saat angin demokrasi bertiup di Turki di awal 1980-an, Recep Erdogan bergabung pada Partai Refah pimpinan Erbakan. Karir politik Erdogan cukup cemerlang disebabkan ia sangat dekat dengan rakyat jelata dan berani bersama-sama rakyat biasa untuk bekerja. Tahun 1994, Erdogan terpilih jadi Wali Kota Istanbul, sebuah kota bersejarah dan metropolitan terbesar dengan penduduk sekitar sepuluh juta jiwa.

Selama menjadi Walikota, Erdogan menegakkan hukum yang adil dan dengan berani banyak membuat kebijakan yang pro-rakyat. Erdogan sama sekali tidak risih memakai seragam pekerja dan bersama-sama rakyatnya melakukan pembersihan jalan. Erdogan pun turun sendiri membagikan kursi-kursi roda pada rakyatnya yang memerlukan.

Semua itu dilakukan bukan sebatas formalitas, tetapi sungguh-sungguh dilakukan. Kehidupan keluarganya pun tidak bisa dikatakan mewah, sehingga hal ini kian mendekatkannya di hati rakyat. Erdogan waktu itu sudah melarang minum-minuman keras.

Banyak kalangan menyandingkan Erdogan dengan Ahmadinejad. Keduanya sama-sama populis, merakyat, sederhana, dan berani menyampaikan kebenaran. kedua pemimpin, baik Ahmadinejad maupun Erdogan, adalah pemimpin yang banyak memberi keteladanan, banyak hal yang telah mereka contohkan kepada rakyat, dan hal-hal yang mungkin telah banyak dilupakan oleh para pemimpin lainnya.

Kepada rakyat, mereka tidak hanya berkata-berkata tapi memberikan contoh serta bukti yang nyata, bahwa pemimpin bukanlah sosok yang tidak bisa dijamah dan digapai oleh rakyatnya, tapi pemimpin adalah pelayan rakyat itu sendiri.

Erdogan bukanlah tipe seorang pemimpin yang mengklaim sebagai Ketua Gerakan Peduli Tetangga, misalnya, namun membangun pagar tembok rumahnya sendiri setinggi lima meter lebih dan asing dengan tetangganya sendiri.

Jika Erdogan menganjurkan kesederhanaan, maka dia dan keluarganya pun menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan. Erdogan dan AKP berkeyakinan jika kekuatan Islam harus diawali dengan berjuang bersama-sama rakyat jelata, baru kemudian menuju dakwah ke atas. Bukan “dakwah” yang dimulai dai atas, baru turun ke bawah.

Akhir 1980-an Partai Refah dibubarkan militer Turki. Erdogan pun ikut kena tangkap dan di penjara hanya dengan tudingan telah membaca sebuah puisi yang bernuansa Islam dan menghina sistem sekuler. Namun disebabkan perilakunya yang baik dan santun, pemerintah mengurangi masa hukumannya, sehingga hanya empat bulan. Setelah pembebasannya, Erdogan mendirikan AKP pada 14 Agustus 2001.

Strategi yang dijalankan AKP adalah dengan menggandeng dan memperkuat lobi dengan Eropa ketimbang harus berdekat-dekatan dengan penguasa sekuleris Turki. Di dalam negeri, AKP memfokuskan diri pada pembelaan dan pendampingan terhadap kaum miskin. Bersama-sama rakyat miskin, AKP berjuang menegakkan sistem yang bersih dan berkeadilan, dan melawan segala perilaku korup para penguasa Turki sekularis.

Hal ini dilakukan Erdogan dan kawan-kawan tidak sebatas di bibir saja, melainkan sungguh-sungguh dilakukan. Erdogan dan para tokoh AKP tidak segan-segan bahu-membahu bersama rakyat miskin menggugat penguasa, dan memperlihatkan kepada rakyat Turki bahwa mereka bersih dan tidak korup dengan benar-benar mencerminkannya di dalam kehidupan keseharian mereka.

Alhasil, simpati rakyat Turki pun didapat AKP. Dalam  pemilu November 2002, AKP keluar sebagai pemenang dengan meraup 363 dari 550 kursi yang tersedia di parlemen. Saat itu, sekitar 42 juta orang berhak memberikan suara pada pemilu dimana 14 partai berusaha memenangkan kursi pada parlemen yang beranggotakan 550 orang.

Kenyataan ini tentu tidak menyenangkan kaum sekuler.  Dengan sekuat tenaga mereka tetap berupaya menghalangi Erdogan agar tidak sampai menjadi perdana menteri. Tetapi Erdogan tidak kehilangan akal.

AKP dengan cepat mendukung amandemen konstitusi yang membuka jalan baginya untuk jadi perdana menteri, dan berhasil. Erdogan pun akhirnya menjadi perdana menteri setelah AKP memenangkan  pemilu tahun 2002 dan berlanjut sampai tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: