JUST TRYING TO COLLECT INFORMATION of ZION-CYBERCRIME-FREE EBOOKS

Jejak CIA di Indonesia

In ARTIKEL POLRI on April 27, 2009 at 8:27 am

 

Kekuatan Imperialisme dan Kolonialisme Barat yang dipimpin Amerika Serikat berada di belakang berdirinya kekuasaan Orde Baru. Sebab itu, di awal masa kekuasaannya Orde Baru sesungguhnya secara total bekerja untuk melayani kepentingan Amerika dan Dunia Imperialisme Barat. Hal ini bisa dilihat dari kerja lembaga intelijen Indonesia yang banyak mengerjakan tugas-tugas dari CIA, bahkan sejumlah satuan intel dibentuk dan didanai CIA. Tidak salah jika banyak pengamat dengan sinis menyatakan jika Indonesia pasca Soekarno sebenarnya merupakan negara bagian Amerika Serikat ke-51 setelah Hawaii. Diakui atau tidak, hal ini terus berjalan sampai detik ini.

Lembaga intelijen Indonesia di era awal Jenderal Suharto hingga pertengahan 1970-an memusatkan perhatiannya pada politik pembendungan pengaruh komunisme di dalam negeri dan juga kawasan Asia Tenggara. Hal ini sejalan dengan apa yang telah digariskan AS dalam Marshall Plan.

Dalam konflik Indocina, di mana biang kapitalisme AS berhadapan dengan biang komunisme Uni Soviet yang masing-masing memainkan bonekanya di Vietnam, lembaga intelijen Indonesia seperti Opsus bekerja secara pro-aktif membantu CIA.

Bulan Maret 1970, Pangeran Norodom Sihanouk—seorang pemimpin sipil Kamboja yang pernah dekat dengan Soekarno, dikudeta oleh Panglima Militernya, Jenderal Lon Nol yang lebih berorientasi ke Barat. Di Utara, Lon Nol terancam oleh keberadaan Vietnam Utara komunis. Sedang di dalam negeri, gerilyawan kiri Kmer Merah tengah tumbuh pesat. Untuk mengokohkan kekuasaannya, Jenderal Lon Nol meminta Barat dan negara-negara di Asia Tenggara yang sehaluan dengannya agar dapat memberi bantuan nyata.

Sinyal SOS dari Jenderal Lon Nol pun disambut baik Jenderal Suharto. Bisa jadi, disebabkan banyak kesamaan keduanya, maka Suharto pun bersikap pro-aktif membantu Lon Nol. Ken Conboy, dalam “Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia” (2007) menulis: “Pada 6 April, sebuah misi gabungan yang terdiri dari perwira militer dan Opsus tiba di ibukota Kamboja, Phnom Penh, untuk sebuah kunjungan selama dua minggu. Tujuan mereka adalah guna menentukan apakah rezim Lon Nol mampu bertahan, dan jika mampu, bentuk dukungan apakah yang bisa diberikan Indonesia.” (h. 72-73).

Hasil tim pendahuluan ini memprediksi Lon Nol tidak akan mampu bertahan lama. Walau demikian, Komandan Opsus dan orang dekat Jenderal Suharto, Jenderal Ali Moertopo dengan berani melakukan langkah nyata untuk menolong Lon Nol. Moertopo yang merupakan guru dari Jenderal Leonardus Beny Moerdhani dan punya ‘peliharaan’ sejumlah orang intel yang disusupkan ke dalam gerakan Islam seperti NII ini, mengumpukan ratusan pucuk senapan serbu AK-47 yang merupakan senjata organik tentara Indonesia di zaman Soekarno dan mengirimkannya kepada tentaranya Lon Nol.

“Pengiriman ini diawasi tiga orang perwira Opsus, yang seorang di antaranya tetap tinggal di Phnom Penh sebagai bagian dari penugasan tetap,” tulis Conboy. Salah satu perwira Opsus bernama Willy Pesik, seorang tokoh Permesta yang kabur ke Malaysia dan juga dekat dengan CIA. Jenderal Lon Nol sendiri, walau mendapat bantuan dari kubu Barat, akhirnya jatuh pertengahan 1975.

Operasi Gigi Palsu

Selain mengerjakan order politik dari CIA seperti menjadi ujung tombak gerakan penghancuran pengaruh komunisme di Asia Tenggara, badan intelijen di bawah rezim Jenderal Suharto juga mengerjakan order CIA lainnya seperti yang terjadi dalam kasus pemalsuan mata uang Dollar AS dan lainnya yang melibatkan seorang warga negara AS bernama Bernard “Larry” Tractman. Target ini diketahui memiliki jaringan orang-orang kuat di kawasan Asia Tenggara, sipil maupun militer, dari mantan senator Filipina Sergio Osmena yang menjadi rival terberat Presiden Ferdinand Marcos, hingga sejumlah pengusaha dan jenderal berpengaruh di Indonesia.

Pada 1970, Jenderal Suharto menerima informasi dari Washington—memo rahasia CIA—yang memintanya agar mau menjejak orang ini. Dan seperti yang sudah-sudah, order dari CIA pun segera ditindaklanjuti Jenderal Suharto dengan sigap dan menugaskan Bakin untuk segera menyelidiki kasus pemalsuan ini yang oleh Bakin diberi sandi ‘gigi palsu’.

Operasi Gigi Palsu digelar dan berhasil mendapatkan sejumlah data yang mengagetkan jika sejumlah jenderal terpandang Indonesia ternyata terlibat dalam bisnis uang palsu dengan Tractman. Uang-uang ini dipakai untuk membiayai gerakan-gerakan politik seperti pemilihan umum yang dilakukan pada April 1971.

Untuk menghubungi para jenderal Indonesia, Tractman mempergunakan seorang penghubung penting yang licin bernama Muchsien Rustandi, seorang pengusaha Indonesia keturunan Tionghoa. Lewat operasi yang rumit di sejumlah negara Asean, dan tentu saja koordinasi dengan CIA, akhirnya Rustandi berhasil ditangkap aparat Indonesia pada akhir 1972. Walau Rustandi jelas-jelas bersalah, namun karena hubungannya dengan sejumlah jenderal berpengaruh, juga lobby Tractman yang hebat, maka kasusnya pun tidak pernah dibuka dan ditelusuri hingga tuntas. Sangat mungkin, hal ini bisa terjadi semata-mata untuk menyelamatkan sejumlah jenderal Indonesia yang terlibat.

Penyelesaian kasus Tractman nyaris terjadi bersamaan dengan naiknya intensitas pergolakan politik di Timor Timur, sebuah daerah jajahan Portugis yang berada di halaman belakang Indonesia. Naiknya Fretilin, sebuah partai bersenjata Marxistis, di wilayah itu mencemaskan AS. Sejarah telah mencatat bagaimana akhirnya tentara Indonesia berhasil menganeksasi wilayah tersebut dengan bertempur memerangi Fretilin. CIA jelas berada di belakang peristiwa perebutan Timor Timur ke Indonesia.

 

Bertepatan di hari Natal, 25 Desember 1991, bendera merah dengan palu arit kuning diturunkan untuk selama-lamanya. Uni Soviet, sebuah negara dengan luas wilayah seperenam wilayah dunia pun bubar. Kehancuran Soviet diikuti dengan cepat oleh ambruknya imperium komunisme di negara-negara Eropa Timur. Situasi politik global pun berubah. Huntington di dalam Clash of Civilization menyatakan jika “bahaya merah” telah hilang dan digantikan dengan “bahaya hijau”.

Peristiwa tragis, hancurnya Soviet, yang banyak mengejutkan warga dunia sesungguhnya telah dirancang oleh Amerika Serikat jauh sebelum meletus Perang Dunia I. Pada 8 Januari 1918, Presiden AS Woodrow Wilson dalam program 14 pasalnya mengakui bahwa pihaknya telah merancang suatu upaya rekayasa untuk menghancurkan kekuasaan Soviet dan memecah Rusia (Vsyemirnaya Istoria 1961, VII:82)

Usaha ini terhalang oleh dua perang dunia dan setelah 1945, Marshall Plan dicanangkan dan seluruh kekuatan Kapitalisme Barat dikonsentrasikan untuk membendung dan menghancurkan komunisme. CIA melakukan ratusan bahkan ribuan operasi di berbagai negara, baik operasi terbuka maupun yang bersifat tertutup. Negara dunia ketiga menjadi sasaran utama “dekonstruksi kekuasaan” agar tunduk pada kekuatan imperialisme Barat.

Di Guatemala, Jacobo Arbenz digulingkan dan digantikan oleh Kolonel Castillo Armaz. Patrice Lumumba di Kongo digantikan Moise Tschombe dan kemudian Mobutu Sese-Seko. Di Vietnam Selatan, pemerintah yang sah dikudeta dan dinaikkanlah Nguyen Khanh. Lalu Phibul Songram di Thailand digantikan oleh Sarit Thanatah, Syngman Rhee di Korea Selatan digulingkan Jenderal Park Cung Hee, Karim Kasim di Irak digulingkan, Pangeran Norodom Sihanouk di Kamboja digulingkan Jenderal Lon Nol, Salvador Allende di Chile digulingkan Jenderal Augusto Pinochet, dan jangan lupa: Soekarno di Indonesia digulingkan dan digantikan oleh Jenderal Suharto. Semua penggulingan kekuasaan ini didalangi oleh CIA dengan memanfaatkan “The Local Army Friend”.

Di Indonesia maupun di negara-negara dunia ketiga yang penguasanya digantikan oleh penguasa yang bisa diajak bersekutu dengan Amerika Serikat sebagai panglima blok kapitalisme dunia, lembaga-lembaga intelijennya juga bekerja demi memenuhi pesanan dari lembaga intelijen Amerika, dalam hal ini CIA.

Sayangnya, berakhirnya perang dingin di awal 1990-an ternyata tidak diikuti dengan perubahan yang berarti. CIA tetap memiliki kontrol luar biasa, tentu saja secara tertutup, terhadap kebijakan lembaga-lembaga intelijen negara proksinya seperti Indonesia. Jika dahulu dilakukan perburuan terhadap sejumlah orang dan organisasi yang dituduh komunis, maka kini dilakukan perburuan terhadap para aktivis Islam dalam operasi berkedok ‘War On Terrorism”, suatu perang berskala global yang diawali dengan merobohkan Menara Kembar WTC, 11 September 2001.

Kesatuan-kesatuan khusus lokal di sejumlah lembaga keamanan negara pun, militer maupun kepolisian, dibentuk dari, oleh, dan untuk CIA. Bahkan pelatih-pelatih atau instruktur-instruktur bagi kesatuan-kesatuan elit anti teroris ini terdiri dari para agen CIA aktif. Patut ditekankan di sini, seperti halnya wartawan, maka agen intel pun sesungguhnya tidak ada kata pensiun atau”mantan”. Jika dia “keluar” maka itu hanya bersifat sementara dan bisa dibangkitkan setiap waktu untuk mengerjakan suatu tugas. Istilahnya, Sleeping Agent.

Di Indonesia, kasus yang sangat mencolok mata yang membuka adanya hubungan erat antara aparat keamanan Indonesia dengan CIA adalah dalam kasus Al-Faruk. Orang Indonesia keturunan Arab ini ditangkap di Bogor, Jawa Barat, namun dalam waktu singkat diterbangkan diam-diam ke pangkalan militer AS di Bagram, Afghanistan.

Kasus Al-Faruk ini sesungguhnya sangat mencederai rasa kedaulatan dan harga diri bangsa ini. Mengapa Al-Faruk tidak diadili saja di wilayah hukum Indonesia. Adakah Indonesia sungguh-sungguh menjadi negara bagian ke-51 Amerika Serikat? Dan mengapa pula para konglomerat perampok yang sampai sekarang masih saja bersembunyi dengan aman di luar negeri, sekutu Amerika seperti Singapura, tidak diantarkan ke Indonesia? Mengapa kita yang harus selalu melayani mereka? Beginilah jika para pemimpin bangsa masih saja memelihara mentalitas budak, yang selalu siap sedia tunduk pada apa pun keinginan tuannya.

Di masa “Reformasi” ini, bangsa dan negara Indonesia secara de factobenar-benar sebuah bangsa yang bukan saja salah urus, namun memang tidak pernah diurus. Para pemimpinnya terlalu sibuk dengan rebutan proyek demi proyek yang didanai oleh uang rakyat. Pos-pos pajak diperbanyak, negara kian buas menyedot uang rakyatnya, dan segelintir elit bersuka ria bergotong-royong dalam permainan besar bernama The Great Corruption.

Rakyat Indonesia kebanyakan kian hari kian susah dan kian disibukkan dengan urusan sekadar mempertahanan hidup. Semua ini akhirnya membuat bangsa ini lalai terhadap perampokan diam-diam yang tengah dilakukan korporasi-korporasi asing terhadap sumber daya alam negeri bernama Indonesia. Inilah potret nyata negeri kita. 

  1. menurut saya .. reformasi.. justru membawa perbaikan…. misalnya memang benar sekarang masih ada korupsi bertebaran,tapi sedikit demi sedikit kasusnya diungkap… tidak seperti masa ORDEBARU ,sengaja ditutupi..soal kemiskinan…dari dulupun banyak perlahan sekarang masih diperbaiki… Indonesia itu bukan negara jin yang dalam sekejap ( 12 tahun masa reformasi )bisa langsung makmur… tinggal gimana bangsa indonesia sekarang mau berubah gak ? jadi kalo sekarang ada rezim militer lagi di Indonesia…. pastinya rakyat indonesia gak akan tinggal diam.. bangkit melawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: