JUST TRYING TO COLLECT INFORMATION of ZION-CYBERCRIME-FREE EBOOKS

Temasek dan Skenario Neoliberalisme di Indonesia

In JEJAK ZION on April 10, 2009 at 6:35 pm

Oleh : Ramlan Nugraha

Konspirasi ExxonMobile

Dalam sebuah buku berjudul “The Case Against the Global Economic (2001)” yang ditulis oleh T. Clarke, seorang ekonom barat, perekonomian dunia saat ini, khususnya di bidang perdagangan di dominasi oleh perusahaan dari Amerika Serikat. Lebih lanjut dia menulis, perusahaan tersebut berbentuk Trans National Coorporate (TNC) dan Multi National Corporation (MNC).

Sesuai dengan namanya, TNC/MNC adalah perusahaan yang ruang lingkup usahanya melintasi batas antar negara. T. Clarke juga mengatakan bahwa sekitar 500 TNC/MNC yang berasal dari berbagai negara, saat ini mengontrol 70 % perdagangan dunia. Dari jumlah TNC/MNC tersebut, perusahaan dari Amerika Serikat menempati jumlah terbanyak dengan menempatkan 185 TNC/MNC atau 37 % dari jumlah keseluruhan.

Awal 2006, ExxonMobile, sebuah Multi National Corporation (MNC) dari Amerika Serikat ditunjuk oleh pemerintah sebagai operator Blok Cepu, sebuah kawasan kaya minyak di Jawa Tengah. Tidak tanggung-tanggung, penunjukan ExxonMobile sebagai operator Blok Cepu tersebut berlangsung sampai 30 tahun ke depan !.

Pada waktu itu, seharusnya pemerintahan SBY-Kalla bisa berpikir rasional dalam mengeluarkan kebijakannya. Apalagi kalau melihat kondisi saat ini, dimana harga minyak dunia semakin membumbung tinggi, sehingga menyebabkan instabilitas ekonomi di negeri ini. Bahkan menurut kajian Bank Indonesia (Republika, 20/11/07), dampak dari peningkatan harga minyak dunia saat ini bisa menyebabkan potensi penekanan ketahanan keuangan Indonesia pada 2008. Sungguh sayang, Blok Cepu yang menurut para ahli memiliki cadangan gas bumi sebesar 11 trilyun kaki kubik dan cadangan minyak bumi sebesar 2,6 milyar barrel terus dikeruk kekayaannya oleh pihak asing.

Praktik Monopoli Temasek

Selasa kemarin (20/11), masyarakat Indonesia dikejutkan dengan sebuah berita menarik. Hampir semua surat kabar yang ada di negeri ini menjadikannya sebagai topik utama. Lebih lengkapnya, di bawah ini saya tulis beberapa poin utama dari berita tersebut yang dikutip dari Republika, Harian Umum Pikiran Rakyat dan Media Indonesia edisi selasa 20 November 2007.

1. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pada senin kemarin (19/11), memutuskan Temasek Holdings (BUMN Singapura) telah melanggar Undang-Undang (UU) No 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha tidak Sehat.

2. Temasek Holdings bersalah karena melakukan kepemilikan silang di dua perusahaan telekomunikasi Indonesia, yaitu Indosat dan Telkomsel.

3. Temasek Holdings diperintahkan untuk melepaskan kepemilikan saham di salah satu perusahaan tersebut, selambat-lambatnya dua tahun sejak keputusan dibacakan atau pada akhir 2009.

4. Selama rentang waktu dua tahun tersebut Temasek Holdings diminta melepas hak suara di antara kedua perusahaan hingga dilepaskannya salah satu dari kedua saham secara keseluruhan. Pelepasan saham tersebut dengan syarat, masing-masing pembeli dibatasi maksimal lima persen dari total saham yang dilepas.

5. Akibat kepemilikan silang tersebut, konsumen telepon seluler di Indonesia mengalami kerugian sebesar Rp 14,764 triliun hingga 30,808 triliun sejak 2003 hingga 2006. Tetapi para konsumen tidak memiliki kewenangan mendapatkan ganti rugi karena tidak ada yang mengajukan keberatan.

6. Temasek Holdings bersama kelompok usahanya, yaitu Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd, STT Communication Ltd, Asia Mobile Holdings Company Pte Ltd, Asia Mobile Holdings Pte Ltd, Indonesia Communication Ltd, Indonesia Communication Pte Ltd, Singapore Telecomunications Pte Ltd, Singapore Telecom Pte Ltd, dan PT. Telekomunikasi Seluler harus membayar denda masing-masing Rp 25 Miliar.

7. KPPU juga memerintahkan Telkomsel menurunkan tarif layanan selulernya sekurang-kurangnya 15 % dari tarif yang berlaku.

Profil Temasek Holdings

*Nama : Temasek Holdings
*Misi : Menciptakan dan memaksimalkan nilai pemegang saham sebagai investor aktif dan sukses.
*Kantor : Singapura
*Staf multinasional: 300 orang
*Portofolio : lebih dari S$160 miliar atau US$100 miliar
*Kredit rating : Standard & Poor’s AAA Moody’s Aaa
*Tokoh Penting : S. Dhanabalan (ketua) dan Ho Ching, CEO (Istri Lee Hsien Loong, PM Singapura)
*Investor aktif dalam berbagai sektor industri : Jasa keuangan dan perbankan, Real estate, Transportasi dan logistic, Infrastruktur, Media dan telekomunikasi, Biosains dan perawatan kesehatan, Gaya hidup dan konsumen, Teknologi dan rekayasa.
*Saham di Indonesia:
1. Indosat (41,94 %)
2. Telkomsael (35 %)
3. BII (28 %)
4. Bank Danamon (53 %)
5. PT. Metropolitan Land (30 %)
6. PT. Chandra Asri (9 %)

Sumber : Media Indonesia (20/11/07)

Poros Setan AS-Singapura

Tinjauan analisis dari dua data yang diuraikan diatas sangat penting untuk kita kaji. Sudah sejak lama kita mengetahui bahwa Amerika Serikat dan Singapura mempunyai hubungan bilateral yang sangat baik. Hubungan tersebut bukan hanya hubungan biasa saja, tetapi fakta di lapangan sesungguhnya mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Singapura bahu membahu berniat menghancurkan Islam.

Awal tahun 2002, Lee Kuan Yew yang dikenal sebagai Bapak Singapura menyatakan dengan tegas, “Singapura tidak akan merasa aman selama teroris-teroris bisa dengan bebas berkeliaran di Indonesia …”. Lebih lanjut dia menuduh Indonesia sebagai sarang teroris di Asia Sejahtera (lihat : Singapura Basis Israel Asia Tenggara, Rizki Ridyasmara). Lebih lanjut, dalam buku tersebut disebutkan setelah itu, banyak tokoh Indonesia yang mengomentari perkataan Lee Kuan Yew tadi, salah satunya DR. Hidayat Nur Wahid, yang pada waktu itu menjabat sebagai Presiden Partai Keadilan Sejahtera. Beliau menyikapi dengan langsung mendesak pemerintah Indonesia untuk meninjau kembali hubungannya dengan Singapura. Menurutnya, Singapura telah menjadi kaki tangan dan kepanjangan kepentingan Amerika Serikat serta Zionis Israel di Asia Tenggara (Majalah Sabili, No. Th 21 Maret 2002 hlm 15).

Supaya terperinci dengan baik, di bawah ini saya tulis beberapa fakta penting mengenai politik intelektual diabolik-nya Singapura terhadap Indonesia. Sumber yang saya kutip masih dari Rizki Ridyasmara, buku berjudul “Singapura Basis Israel di Asia Tenggara” Terbitan Khalifa (Pustaka Al-Kautsar Grup) tahun 2005. Berikut fakta penting tersebut :

1.Singapura adalah Negara yang melindungi aksi penyelundupan.

Data ekspor impor yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) dengan Badan Pengembangan Perdagangan (Trade development Board/TDB) SIngapura menunjukkan perbedaan yang cukup besar. menurut BPS, selama periode 1998, ekspor Indonesia ke Singapura hanya sebesar US$ 5,71 miliar, sedangkan data TDB impor dari Indonesia periode yang sama mencapai US$9,02 miliar. Ada perbedaan sebesar US$3,31 miliar yang diduga kuat hasil dari pasar gelap.

Salah satu komoditas yang banyak sekali diselundupkan ke Singapura adalah pasir pantai. Sejak 1996 hingga 2010, Singapura akan terus menjalankan program perluasan negaranya dengan menguruk pantai-pantainya dengan pasir yang dikeruk dari Indonesia secara illegal. Di Riau saja, tiap bulannya tak kurang 500.000 ton pasir disedot oleh Singapura.

2.Singapura merupakan Negara pelindung perampok dan penjarah uang bangsa Indonesia.

Singapura adalah surga bagi para konglomerat perampok uang bangsa Indonesia. Disana mereka dengan bebas bisa berkeliaran, bahkan menanam modal dan membeli apartemen. Singapura mengeruk keuntungan dari pelaku bisnis asing salah satunya dengan cara memberlakukan permanent residence. Untuk mendapatkan permanenet residence, seseorang cukup membayar S$1,5 juta (setara 8 miliar), dalam deposit schmene foreign entrepreneur, atau menginvestasikan modal minimal S$1,5 juta dalam bisnis yang disetujui pemerintah Singapura.

3.Singapura adalah antek Zionis-Israel sekaligus antek Amerika Serikat.

Lontaran ini dikeluarkan oleh pengamat intelijen Soeripto. Beliau mengatakan “Pelatihan-pelatihan tenaga intel, termasuk pejabat intel di Singapura itu, semuanya dilakukan di Israel”.

Begitulah tindak tanduk si negeri liliput ini, tanpa kita sadari negeri yang sampai akhir 2003 ini mempunyai 80 buah pesawat tempur F-16 (bandingkan dengan Indonesia yang hanya mempunyai 10 buah F-16) ini terus merongrong kedaulatan NKRI. Dengan mesin-mesin neoliberalisme-nya, Singapura semakin memperkokoh hegemoni mereka dalam mengatur resources di Indonesia.
Penguasaan Tematex terhadap bisnis telekomunikasi seluler di Indonesia tentunya akan sempit kalau dilihat dari sudut pandang bisnis an sich. Apalagi ketika kita dihadapkan pada fakta hubungan antara Singapura dan Indonesia yang selama ini terjadi. Dari uraian yang saya tulis di atas, ada beberapa hal yang menurut saya penting untuk kita perhatikan terkait dengan praktik monopoli yang dilakukan Tematex, diantaranya :

1. Paham Neoliberalisme

Sebagai Negara common law, konsep perekonomian yang dipakai Singapura merujuk pada konsep reformasi yang dilakukan Margaret Tatcher yang berhasil melakukan reformasi perekonomian di Inggris pada tahun 1980-an. Konsep reformasi tersebut yang dikenal sebagai faham kapitalisme individualistik atau neoliberalisme. Paham ini melahirkan kapitalisme, yang menurut Adam Smith, menghendaki setiap orang diberi kebebasan untuk bekerja dan berusaha dalam persaingan sempurna, dengan meniadakan sama sekali intervensi pemerintah. Dengan alasan ini tidak heran semangat monopoli Temasek sebagai BUMN Singapura berhasil menguasai lebih dari 75 % pasar bisnis seluler di Indonesia. Selain itu tentu agenda mereka juga menyebarkan paham sesat ini kepada kaum muslimin di Indonesia.

2.Pengkhianatan Elite Politik Indonesia

Kelambatan pemerintah dalam menangani kasus monopoli bisnis telekomunikasi ini patut kita analisis lebih jauh. Pemerintah tidak memberi alasan ketika kuasa hukum Singapore Technologies Telemedia (STT) group, Ignatius Andy mengatakan, “Kenapa KPPU diam saja pada 2003 dan baru 2007 dipersoalkan ? Ini akan menimbulkan pertanyaan”. Pernyataan ini kita analogikan, ketika pemerintah melakukan tindakan kepada pelaku pelanggaran, malah timbul pertanyaan balik dari si pelaku pelanggaran. Dan alasan si pelaku pelanggaran pun adalah rasional, Kita kembali lagi, faktanya adalah privatisasi besar-besaran aset-aset Negara memang diobral ketika pemerintahan Megawati berkuasa (2002-2004), dan Singapura mendapat untung dari penjualan tersebut.

3. Silat Lidah Kaum Kapitalis

Pertanyaan Ignatius Andy pun sepertinya mengandung banyak propaganda. Di satu sisi memang pertanyaan tersebut sangat rasional, tetapi di satu sisi bisa berdampak pada timbulnya keresahan sosial karena adanya resistansi kepercayaan dari masyarakat kepada pemerintah. Dua analisis ini dapat menimbulkan gejala kebingungan bagi pelaku yang menganalis hal ini, kebingungan tersebut bisa dikarenakan karena tidak lengkap atau validnya suatu informasi. Nah, dalam kondisi inilah seorang aktivis bisa mengalami “perang batin” antara diam atau bertindak. Mengutip pernyataannya Adian Husaini, “Di dalam percaturan opini publik, masalah pokoknya adalah bahwa masyarakat menerima fakta bukan sebagaimana adanya, tetapi apa yang mereka anggap sebagai fakta. Jadi, ada kesenjangan antara fakta sebenarnya dan “apa yang dianggap fakta” yang oleh Lippman disebut sebagai “kenyataan fatamorgana” atau “lingkungan palsu”. (Lihat : Penyesatan Opini : Sebuah rekayasa mengubah opini, Adian Husaini). Saya berpendapat, di balik ini ada lingkungan palsu yang sengaja dibuat oleh pihak Singapura untuk memuluskan agenda tersembunyi lainnya.

Belajar dari Amin Rais dan HM. Rasjidi

Sudah seharusnya negara ini banyak belajar dari sikap Amin Rais (mantan ketua MPR RI) dan (alm) HM. Rasjidi (Menteri Agama RI yang pertama). Mereka berdua, walaupun sama-sama pernah mengeyam pendidikan di barat (Amin Rais dari Indiana dan Chicago University, AS sedangkan HM. Rasjidi dari McGill University, Kanada), tetapi mereka tidak silau akan pengaruh barat, malah sebaliknya mereka selalu tegas terhadap barat demi kepentingan umat dan negaranya.

Amin Rais menggunakan disiplin ilmunya sebagai ahli ilmu politik dan Timur Tengah. Beliau konsisten menolak dominasi asing yang ingin mengeruk kekayaan negeri ini. Coba tengoklah sikap beliau tentang Freeport dan Blok Cepu.

Sedangkan (alm) HM. Rasjidi adalah ahli pemikiran Islam. Beliau Menteri Agama pada Kabinet Sutan Syahrir. Riwayat pendidikan tinggi ditempuh di Darul Ulum, Universitas Kairo, Doktor di Universitas Sorbone Paris, dan terakhir di McGill University Kanada. Adian Husaini, Pakar Pemikiran dan Peradaban Islam berpendapat dalam bukunya yang berjudul “Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi (2006)”, bahwa HM. Rasjidi adalah cendekiawan muslim yang sangat kritis terhadap pemikiran orientalis. Tentu, mereka tidak lembek seperti halnya Harun Nasution (Rektor IAIN Syahid Jakarta periode 1973-1984), yang setelah mendapat gelar Ph.D dari jurusan Islamic Studies McGill University Kanada malah menghancurkan umat dengan membawa virus sekulerisme dan liberalisme ke tengah-tengah masyarakat.

http://kammi.or.id/last/lihat.php?d=materi&do=view&id=2651

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: