JUST TRYING TO COLLECT INFORMATION of ZION-CYBERCRIME-FREE EBOOKS

Jejak Yahudi Terakhir di Indonesia

In JEJAK ZION on April 10, 2009 at 7:35 pm

Ditoelis oleh Kuncarsono Prasetyo Kamis, 05 Februari 2009

Image

Gedung Sinagoge Jl Kayoon 6

Sejumlah orang mendesak Sinagoge di Jalan Kayoon Surabaya ditutup, menyusul perang Israel dan Palestina di jalur Gaza. Begitu mengancamkah tempat ini? Mungkin jangan hanya mengutuk dari luar pagar. Mari masuk dan menyaksikan keunikannya dari dalam!

Bangunan kuno berlanggam Indische Imperial gaya arsitektur akhir abad 18, tegel teraso bermotof bunga, kursi kursi rotan, altar jati berukir, hiasan dinding bertuliskan bahasa ibrani, alat-alat ritual dari logam. Saksi peradaban yang pernah lahir dan besar di negeri ini.

Sebenarnya setiap orang bisa berplesiran ke tempat ini, tanpa perlu ke Amerika, Australia atau ke Mediterania Timur sekadar untuk menyaksikan eksotisme sebuah sinagoge. Seperti banyak wisatawan yang tidak pernah surut berfoto ria di dalam Kuil Sikh di Pasar Baru Jakarta ketimbang juah-jauh ke Singapura atau India

Santai saja, tidak perlu merasa terancam di dalamnya, apalagi iman kita goyah. Seperti orang-orang yang asyik menikmati peninggalan para penyembah roh berupa tugu batu menhir di Minahasa.

 

Image

Yusron berlatar belakang gedung Sinagoge

Di ruang tengah ada barisan kursi anyaman rotan sekitar 15 buah menghadap mimbar. Mimbar itu lebar sehingga cukup untuk tiga orang berderet. Sementara mimbar itu menghadap altar yang diapit dua lilin sepanjang setengah meter. Ada satu mimbar cuku8p untuk satu orang antara mimbar lebar dan altar. Ada dua kursi jangkung di sebelah kanan altar. ‘’Ini  adalah kursi buat anak yang disunat,’’ kata Yusran Sambah, juru kunci sinagoge ini. 
Namun Sinagoge ini sebenarnya sudah tidak utuh lagi karena syarat sebagai tempat ibadah ‘berjamaah’ tidak terpenuhi. Barisan kursi yang terlihat itu hanya untuk jamaah laki-laki. Sementara barisan kursi untuk jamaah perempuan yang terpisah ditempatkan di hall sebelah tidak ada lagi. Hall itu saat ini justru ditempati meja panjang dan barisan kursi untuk diskusi. Sementara  syarat selubung emas pada dua lilin-lilin panjang dan emas di tubuh altar juga tidak ada lagi.

Alat alat ritual ibadah juga berdebu di lemari jati kaca. Sebab orang yang harusnya menggunakan alat ini yaitu Rabbi alias pemuka Yahudi sudah sejak 50 tahun silam tidak ada. Sinagoge Beth Hashem di Kayoon 4-6 ini sudah sejak lama menjadi objek wisatawan orang orang asing. ‘’Mereka datang sekadar membuktikan keherannya kokada Sinagoge di negara yang mayoritas Islam,’’ kata Yusran.
Sebab inilah Tempat ibadah umat Yahudi satu-satunya di Indonesia yang masih tersisa. Berdiri pada 1913 jauh sebelum Negara Israel lahir, bahkan negara Indonesiapun masih dalam angan-angan.
Orang-orang yang berkeyakinan Yahudi diyakini datang bersama dengan kedatangan bangsa Belanda, pedagang India, hingga pedagang asal Mediteranan timur. Berabad-abad, hingga memiliki Loge, tempat perkumpulan Yahudi di banyak tempat di Indonesia. Kaum Yahudi juga meninggalkan jejak bangunan unik lainnya seperti Yahudi Belanda Lukas Martin yang membangun Oranje Hotel yang kini bernama Hotel Majapahit.
Sementara perkumpulan para pemeluk agama Daud ini awal abad lalu patungan dan membeli sebuah rumah di Kayoon dengan sponsor utama Josepoh Erza Isaak. Namun menyusul Indonesia merdeka dan masionalisasi membuat Yahudi di Indonesia ‘punah’ bersaman dengan menyingkirnya warga Eropa.
Ada belasan keluarga Yahudi yang ada di Surabaya. Namun hanya ada tiga keluarga yang kadang datang dan menjalankan ritual di tempat ini terutama pada hari suci seperti Sabbath, Yom Kippur, dan Rosh Hashanah. Namun sejak 40 tahun lalu tidak bisa lagi berjamaah. Bahkan belakangan juga terancam, ketika negara pemeluk Yahudi terbesar yaitu Israel sedang berseteru hebat dengan Palestina di tanah suci umat umat dunia.
‘’Sekarang sinagoge ini adalah warisan sejarah. Hanya menjadi saksi bisu bahwa kaum Yahudi pernah singgah di Surabaya,’’ kata Yusran yang beragama Islam. Seperti juga jejak agama Sigh di kuil terakhirnya di Jakarta atau jejak animisme di Minahasa sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: